Indonesia belum bisa menandatangani larangan iklan rokok dari WHO

  • Share
  • Share on Tumblr
  • SumoMe
  • Share
  • Share on Tumblr

Sudah banyak sekali negara-negara di dunia ini yang sudah menyetujui larangan memasang iklan rokok dari World Health Organization (WHO)  dengan menandatangani larangan iklan rokok tersebut. Larangan memasang iklan ini dimaksudkan untuk mengurangi jumlah perokok di dunia dengan melarang pemasangan iklan-iklan rokok di setiap negara dan dalam bentuk apapun.

Selain Indonesia yang belum menandatangani rativikasi tersebut adalah Guinea, Nigeria. Ketiga negara ini belum bisa melakukan penandatanganan peraturan untuk melarang iklan rokok.

Indonesia yang memiliki rokok yang bercita rasa ini memiliki industri rokok mulai dari yang kecil hingga yang besa, statusnya masih belum menyetujui peraturan dari WHO itu.  Negara Indonesia ini masih memiliki kompleksitas permasalahan yang belum bisa dilepaskan dari dunia tembakau ini. Kompleksitas itu sebenarnya yang paling utama adalah masalah ekonomi rakyat yang belum bisa dientaskan dan belum bisa membuatkan sebuah lapangan pekerjaan kepada rakyatnya.

Upaya-upaya segala cara dilakukan untuk menghambat pertumbuhan perokok di negara Indonesia mulai dari menyarankan kepada pemerintah untuk menaikkan cukai rokok sebesar 57% hingga ada juga yang menyarankan hingga 100%.  Kemudian perokok juga mulai dibuatkan Peraturan Daerah mengenai larangan merokok di tempat publik.

Mengenai ekonomi rakyat yang harus ditingkatkan ini karena negara ini masih belum memberikan pekerjaan lain untuk 600 ribu pekerja pabrik rokok dan beberapa lagi untuk petani tembakau yang tersebar didaerah. Keahlian yang mereka miliki kemungkinan hanya seperti yang mereka lakukan sehari-hari dan secara turun temurun. Negara belum bisa menciptakan industri baru lagi untuk mereka yang berhenti dari industri rokok dan termasuk petaninya.

Buruh pabrik rokok rata-rata memiliki pendidikan yang minim sekali dan hal itu berlangsung secara turun temurun yang dulunya orang tua pernah bekerja di pabrik tersebut kemudian digantikan oleh anaknya. Pendidikan yang minim dan ketrampilan yang terbatas, pemerintah belum ada anggaran untuk memberikan lapangan pekerjaan baru dan pendidikan, ketrampilan lebih untuk mereka.

Petani tembakau mungkin masih memerlukan proses lagi ketika diharuskan untuk menanam tumbuhan selain tembakau. Ketrampilan menanam tembakau yang berkualitas serta cara penjualannya petani tersebut mungkin masih bisa melakukannya untuk menopang biaya hidupnya. Akan tetapi ketika disuruh menanam tumbuhan lain kemudian siapa yang akan menanggung rugi ketika proses pembelajaran tersebut sedang berlangsung yang mungkin memakan waktu bulanan bahkan tahunan. Siapa yang akan menopang biaya hidup para mantan petani tembakau.

Di Indonesia ini secara gambaran kasar itu masyarakatnya masih memikirkan isi perut daripada untuk mengisi otak.

Artinya : Masyarakat Indonesia mayoritas ketika mencari penghasilan sehari-hari masih digunakan untuk mengisi perut  (makan) kalaupun ada rejeki lebih akan disimpan untuk antisipasi kebutuhan mendadak.

Kalau masih belum percaya dengan hal itu coba introspeksi pada dirinya masing-masing….

  1. Anda gunakan untuk apa penghasilan anda ?
  2. Total penghasilan anda, anda habiskan untuk kebutuhan anda sendiri atau untuk hal lain yang bukan untuk anda ?
  3. Seberapa besar anda menghargai jerih payah orang lain yang bekerja pada anda ?
  4. Bagaimana cara menghargai orang lain, dengan cara ikut-ikutan pada umumnya masyarakat menilai atau sesuai hati nurani anda ?
  5. Pedulikah anda dengan global warming ?
  6. Seberapa besar peduli anda pada global warming ?
  7. Seberapa besar kepedulian anda pada kemiskinan disekitar anda ?
  8. Pernah mencari uang dengan cara curang ?
  9. Untuk apa uang dari hasil kecurangan itu ?
  10. Seberapa besar kepedulian anda memberikan pendidikan dan pengetahuan anda untuk orang lain ?
  11. Apakah anda menghargai pengetahuan yang anda berikan kepada orang lain dengan uang ?
  12. dll….

Masih banyak pertanyaan lagi yang semuanya itu masih mengarah pada keserakahan untuk menyenangkan diri sendiri alias masih sebatas perut untuk menopang hidup pribadi masing-masing, baik itu dari lapisan masyarakat yang paling bawah sampai atas.  Yang korupsi maupun yang tidak semuanya masih belum bisa melakukan sesuatu yang berbeda diluar kebutuhannya sendiri.

Semua masyarakat Indonesia ini masih hidup berkecukupan belum berlebih, belum bisa memikirkan hal lain-lainnya seperti hal-hal sepele lainnya yang mungkin bermanfaat untuk jangka panjang.

Masyarakat kita masih banyak yang mau melakukan rebut-rebutan sesuap nasi.

Kapan masyarakat Indonesia ini sudah tidak bingung kebutuhan makan sehari-hari (kebutuhan primer) maksudnya masyarakat masih berani menanggung resiko hilang nyawa hanya untuk mendapatkan uang Rp. 30.000 = 1-3 porsi makan bagi kita pada saat ini (insiden pasuruan)

Semua diatas gambaran karakter yang ada pada diri kita semua, termasuk yang **************************** ini.

About Wamir

Wamir hanyalah seorang pengamat semua bidang pengetahuan terutama pengetahuan tentang internet seperti SEO, Social Media, dan perkembangan teknologi website. Selain itu juga menggemari pengetahuan tentang bisnis, baik offline maupun online. Dia juga gemar berbagi pengetahuan apapun yang sudah diketahuinya.
This entry was posted in Djarum Black and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>